Diplomasi tak selalu berbicara tentang perjanjian atau konferensi meja bundar. Kini, Indonesia memilih jalur yang lebih membumi: menyebarkan rasa melalui buku resep. Rasa Bhayangkara Nusantara, yang memuat 80 menu dari program Makan Bergizi Gratis, telah mencatatkan perjalanan gemilang hingga ke Korea Selatan, menyusul jejaknya yang lebih dulu hadir di London, Davos, Washington D.C., Jeddah, hingga Jepang. Kehadiran di Seoul ini bukan sekadar seremoni, melainkan langkah strategis memperkuat diplomasi budaya Indonesia di kawasan Asia, membuktikan bahwa kebijakan publik pun bisa dikomunikasikan dengan cara yang menyentuh dan universal.
Buku ini hadir di Korea Selatan melalui tangan Dirgayuza Setiawan, Asisten Khusus Presiden Bidang Komunikasi dan Analisa Kebijakan, yang menyerahkannya langsung kepada Duta Besar RI untuk Korea Selatan, Cecep Herawan. Momentum ini menjadi ruang dialog alami tentang bagaimana Korea Selatan telah berhasil menjalankan program makan bergizi nasional selama lebih dari 20 tahun dengan anggaran tahunan mencapai sekitar 80 triliun rupiah. Dirgayuza melihat bahwa pengalaman Korea Selatan, yang membangun sistem dapur langsung di setiap sekolah secara bertahap, adalah pelajaran berharga bagi Indonesia. Di sinilah buku ini menjelma menjadi jembatan pengetahuan, bukan sekadar koleksi resep.
Wakapolri Komjen Pol. Prof. Dr. Dedi Prasetyo menegaskan bahwa perjalanan buku ini adalah bagian dari strategi besar untuk menunjukkan pendekatan baru dalam diplomasi. Ia menyebutnya sebagai perpaduan antara kebijakan, budaya, dan nilai kemanusiaan yang dikemas dalam satu karya nyata. Dari forum World Economic Forum di Davos hingga kedutaan besar di berbagai negara, buku ini menjadi alat komunikasi yang memperlihatkan bahwa Polri tidak hanya hadir sebagai penjaga keamanan, tetapi juga sebagai inovator yang turut mengantarkan identitas bangsa ke panggung global. Rasa Nusantara, ternyata, bisa menjadi bahasa yang paling mudah dipahami dunia.(Avs)
.jpeg)
Posting Komentar