Di tengah kehangatan acara buka puasa bersama di PT NOK, Jenderal Listyo Sigit Prabowo menyempatkan diri untuk berdialog dengan ribuan buruh yang tergabung dalam DPD KSPSI Jawa Barat. Ia tidak ingin momen silaturahmi ini berlalu begitu saja tanpa membawa pencerahan tentang situasi bangsa. Dengan gamblang, Kapolri memaparkan bagaimana konflik global, seperti yang terjadi antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel, menciptakan efek domino yang bisa menggoyang ekonomi nasional. Di sinilah ia menjelaskan peran aktif pemerintah yang tidak tinggal diam, menjalankan politik bebas aktif dan mengusulkan perdamaian melalui two-state solution. Indonesia ingin menjadi bagian dari solusi, bukan sekadar penonton.
Tak hanya soal perdamaian, pemerintah juga bergerak cepat di jalur ekonomi untuk melindungi kepentingan dalam negeri. Kapolri mengungkapkan kabar baik bahwa hasil negosiasi dengan Amerika Serikat berhasil menurunkan tarif dagang dari 32 persen menjadi 19 persen. Ini adalah buah dari kerja keras diplomasi yang tak banyak diketahui publik, namun dampaknya langsung terasa bagi para pelaku industri dan buruh. Dengan tarif yang lebih rendah, produk Indonesia menjadi lebih kompetitif, ekspor terjaga, dan lapangan kerja pun tetap aman. Ini adalah bukti bahwa pemerintah serius menjaga stabilitas ekonomi di tengah gempuran global.
Untuk masa depan, pemerintah tidak hanya bersikap reaktif, tetapi juga proaktif dengan mendorong program hilirisasi di berbagai sektor. Kapolri menyebut industri otomotif, baterai listrik, dan lifting minyak sebagai prioritas yang akan mengubah wajah perekonomian Indonesia. Semua ini adalah bagian dari program Asta Cita yang bertujuan menciptakan ketahanan pangan dan energi, sehingga Indonesia mampu berdiri di atas kaki sendiri. Kemandirian ini adalah tameng terbaik ketika tekanan dari luar negeri datang silih berganti. Ini adalah cita-cita besar yang membutuhkan dukungan semua pihak.
Di akhir sambutannya, Jenderal Sigit kembali menekankan pentingnya peran buruh dalam mewujudkan visi besar ini. Ia meminta mereka untuk bersatu menjaga iklim investasi dan mengelola sumber daya alam dengan bijak, karena kekayaan bangsa harus dinikmati oleh rakyat sendiri. Namun, ia juga mengingatkan bahwa persaingan global tidak bisa dihindari, sehingga peningkatan kualitas sumber daya manusia adalah sebuah keharusan. "Buruh kita harus siap dan tidak kalah dengan negara lain," pungkasnya, memberikan semangat bahwa dengan persatuan dan kompetensi, Indonesia bisa melewati badai global dan meraih masa depan yang lebih cerah. (Avs)
Tak hanya soal perdamaian, pemerintah juga bergerak cepat di jalur ekonomi untuk melindungi kepentingan dalam negeri. Kapolri mengungkapkan kabar baik bahwa hasil negosiasi dengan Amerika Serikat berhasil menurunkan tarif dagang dari 32 persen menjadi 19 persen. Ini adalah buah dari kerja keras diplomasi yang tak banyak diketahui publik, namun dampaknya langsung terasa bagi para pelaku industri dan buruh. Dengan tarif yang lebih rendah, produk Indonesia menjadi lebih kompetitif, ekspor terjaga, dan lapangan kerja pun tetap aman. Ini adalah bukti bahwa pemerintah serius menjaga stabilitas ekonomi di tengah gempuran global.
Untuk masa depan, pemerintah tidak hanya bersikap reaktif, tetapi juga proaktif dengan mendorong program hilirisasi di berbagai sektor. Kapolri menyebut industri otomotif, baterai listrik, dan lifting minyak sebagai prioritas yang akan mengubah wajah perekonomian Indonesia. Semua ini adalah bagian dari program Asta Cita yang bertujuan menciptakan ketahanan pangan dan energi, sehingga Indonesia mampu berdiri di atas kaki sendiri. Kemandirian ini adalah tameng terbaik ketika tekanan dari luar negeri datang silih berganti. Ini adalah cita-cita besar yang membutuhkan dukungan semua pihak.
Di akhir sambutannya, Jenderal Sigit kembali menekankan pentingnya peran buruh dalam mewujudkan visi besar ini. Ia meminta mereka untuk bersatu menjaga iklim investasi dan mengelola sumber daya alam dengan bijak, karena kekayaan bangsa harus dinikmati oleh rakyat sendiri. Namun, ia juga mengingatkan bahwa persaingan global tidak bisa dihindari, sehingga peningkatan kualitas sumber daya manusia adalah sebuah keharusan. "Buruh kita harus siap dan tidak kalah dengan negara lain," pungkasnya, memberikan semangat bahwa dengan persatuan dan kompetensi, Indonesia bisa melewati badai global dan meraih masa depan yang lebih cerah. (Avs)

Posting Komentar