Auditorium Mutiara STIK Lemdiklat Polri di Jakarta Selatan berubah menjadi panggung diskusi panas tentang masa depan pendidikan kepolisian pada Senin (13/4) melalui Seminar UNIPOL bertema "Menyiapkan Personel Polri yang Presisi". Komjen Pol. (Purn) Prof. Dr. Chryshnanda Dwilaksana menegaskan bahwa polisi adalah cermin peradaban bangsa, sehingga pendidikan kepolisian harus melahirkan insan profesional, cerdas, bermoral, dan modern. Ia memaparkan bahwa di era digital, pemolisian wajib berevolusi menjadi electronic policing dan forensic policing, bukan lagi sekadar patroli konvensional.
Ketua Komisi III DPR RI Habiburokhman turut menyoroti perlunya percepatan reformasi Polri secara holistik, termasuk penguatan kurikulum pendidikan HAM dan pemanfaatan teknologi. Ia menegaskan bahwa DPR mempertahankan posisi Polri tetap di bawah Presiden langsung sesuai konstitusi dan TAP MPR. Lebih lanjut, Habiburokhman menyebut fenomena no viral no justice sebagai konsekuensi alami era keterbukaan informasi, asalkan aparat responsif terhadap setiap ketidakadilan yang terekspos.
Seminar ini menjadi ruang sinergi lintas sektor untuk merumuskan rekomendasi strategis penguatan SDM dan reformasi birokrasi Polri. Chryshnanda menekankan bahwa pada pendidikanlah masa depan Polri bergantung, sehingga institusi harus satu langkah lebih maju dari perubahan zaman. Dengan transformasi ini, diharapkan Polri tidak hanya menjadi penegak hukum, tetapi juga penjaga kehidupan, pembangun peradaban, dan pejuang kemanusiaan di tengah derasnya arus digital.(Avs)

Posting Komentar