Angka Percaya dan Senyap di Balik Seragam


Di balik angka 82,4 persen yang diumumkan Litbang Kompas, ada cerita tentang warga yang kembali merasa tenang saat melihat lampu rotasi biru di tikungan malam. Fernando Emas dari Rumah Politik Indonesia menyebut kenaikan dari 76,2 persen bukanlah kebetulan, melainkan akumulasi dari interaksi sehari-hari yang tak selalu terdengar. Ia menekankan bahwa survei hanyalah cermin, sedangkan kenyataannya ada pada antrean pembuatan SIM yang lebih tertib, atau pada tanggapnya Bhabinkamtibmas saat banjir datang.


Menurut Fernando, kepercayaan publik adalah barang rapuh yang hanya bisa dirawat oleh aksi nyata, bukan spanduk atau slogan. Ia mencontohkan bagaimana penanganan gangguan keamanan dan pengaturan lalu lintas menjadi panggung utama penilaian warga, jauh lebih berbobot daripada konferensi pers manis. Dalam pandangannya, kenaikan 7,2 poin pada citra lembaga patut disyukuri, tetapi itu baru setengah jalan.


Di sisi lain, Fernando mengajak publik untuk tidak berhenti menjadi pengawas aktif, karena reformasi Polri bukanlah proyek satu tahun, melainkan gerakan kolektif. Ia berharap masyarakat tetap menyuarakan ketidakpuasan secara konstruktif, karena hanya dengan cara itulah kepercayaan bisa bertahan. Ia mengibaratkan kepercayaan seperti api kecil—jika dijaga, ia akan menerangi, tetapi jika diabaikan, ia padam dalam sekejap.


Namun, ia pun mengingatkan bahwa pujian tidak boleh membuat lupa akan celah yang masih menganga. Ia pun menyebut bahwa kritik tetap harus mengalir, bagaikan air yang membersihkan lumut dari batu. Karena itu, ia menekankan pentingnya keseimbangan antara tepuk tangan dan catatan pinggir. Akhirnya, Fernando menutup dengan pandangan optimis bahwa rapor positif ini adalah awal, bukan akhir, dan modal sosial yang tinggi akan mendorong Polri untuk lebih transparan dan profesional. (Avs)

0 Komentar

Posting Komentar

Post a Comment (0)

Lebih baru Lebih lama